PERGESERAN POLA TATA RUANG di KALISAT
*Oleh Windy Wirawan, lulusan 'civil engineering' Jember
Membicarakan hamparan tata kelola sebuah kawasan atau disebut 'landscape' pastilah tidak bisa lepas dari tiga hal mendasar. Hal pertama adalah masa lalunya, masa kini, dan rencana masa depan. Dalam sebuah pandangan sederhana, saya akan membahas ketiganya secara singkat dan terbatas.
Kita bicara tentang Kalisat di masa lalu, dimana Kalisat sejak era tahun 1900an hingga tahun 2000an Masehi. Saya mengambil rentan waktu tersebut dimana di tahun tersebut cikal Kalisat masa kini dibentuk. Di tahun tersebut kurang lebih Kalisat dikenal sebagai jalur persimpangan kereta, dimana arus budaya mulai bergerak cepat dengan jangkauan yang luas. Saya meyakini sebagai jalur persimpangan banyak sekali infrastruktur disiapkan disana. Tujuan utama pembangunan jalur kereta sejak dahulu hingga saat ini adalah 30% melayani mobilisasi manusia dan 70% mobilisasi logistik. Dalam urusan logistik pihak kolonial menjadikan sebuah kota dengan sebuah perencanaan yang matang. Kota-kota niaga, kota pelabuhan, kota perdagangan dan kota transit merupakan basis perekonomian yang sangat penting bagi pihak kolonial. Disana semua sarana prasarana dikembangkan.
Sampai saat ini bisa kita lihat bagaimana Kalisat bergeliat.
Di sini gudang-gudang pengumpul dan penyimpanan bertebaran dimana-mana. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab. Dalam peta lama kolonial, kawasan-kawasan pertanian dan perkebunan membutuhkan sebuah titik kumpul komoditi yang mendukung proses distribusi, dan Kalisat menurut saya dikembangkan untuk itu. Segala hasil pertanian, perkebunan dan komoditi dagang lainnya mengalami masa persinggahan disini. Hal ini sangat sederhana, menginggat jumlah armada pendistribusi sangat terbatas jumlahnya. Dan jikalau harus menunggu, haruslah disediakan tempat yang baik.
Dimasa pasca proklamasi sampai tahun 2000an, peran Kalisat sebagai kota percabangan masihlah berjalan, sebelum perlahan bergeser menjadi kota yang biasa selayak Klakah, Tanggul atau Rambipuji.
Matinya jalur Kalisat-Panarukan serta bergesernya tren penggunaan kereta api menjadi truk sebagai pelayan distribusi barang menjadikan peran Kalisat menjadi sedikit bergeser seiring tak bisa dipertahankannya rencana jangka panjang pihak kolonial. Namun beberapa peran seperti pusat komoditi beras dan tembakau masih tetap berjalan.
Pergeseran pola tata ruang dari rencana pengembangan kolonial menjadi rencana pengembangan tata ruang republik merubah beberapa hal serta tetap meninggalkan sebuah ciri khas pada Kalisat.
Jika dilihat dari persebaran penduduk dan perencanaan tata ruang Kalisat sedikit berbeda, posisi pasar-stasiun-serta terminal sangatlah berdekatan. Pusat pertumbuhan sepertinya terancang di satu titik saja, maka tak heran jika tingkat kepadatan dan masalah kependudukan di titik nol Kalisat jauh lebih berat.
Pada saat ini gejala permasalahan seperti pertumbuhan yang mulai tak sebanding dengan luasan lahan mulai nampak di titik nol. Pembangunan infrastruktur yang tak se-prioritas era kolonial pun akhirnya menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Ada kebutuhan ruang publik disana, kebutuhan pengelolaan sampah serta tata kelola drainase dan air bersih. Semua itu adalah masalah awal perkotaan yang sedang bertumbuh di Kalisat.
Sementara, di sisi ketahanan Kalisat masihlah dipandang sebuah kawasan yang penting. Ketahanan pangan bangsa ini juga turut dibebankan pada Kalisat sebagai sentra produksi padi. Dan jika dilihat dari topografinya bukan tidak mungkin Kalisat merupakan garis pertahanan militer yang cukup baik. Arteleri Medan serta arteleri pertahanan udara sangat potensial ditempatkan disini selain menyediakan Medan Gerilya dengan topografi yang menarik. Dan saya kira itu telah dapat menjadi bahan memandang Kalisat untuk masa depan.
Kini bagaimana merencanakan Kalisat untuk masa depan?
Menurut saya, membangun kota mandiri adalah hal yang paling baik, karena kota mandiri menggerakkan semua elemen pembangunan tanpa ketergantungan.
Tantangan membangun kota mandiri bukanlah hal mudah. Pendidikan kesadaran pada masyarakat serta pembudayaan semangat mandiri harus dimulai, dan itu membutuhkan waktu yang panjang. Masyarakat harus diajak memahami resiko ancaman yang akan dihadapi ke depan ketika kebutuhan tentang pemecahan masalah tata ruang meningkat. Mereka harus berani merekayasa lingkungannya agar tetap nyaman dan ramah untuk bertumbuh.
Untuk itu masyarakat harus tahu, setidaknya:
1. Luas minimum ruangan bagi satu individu dalam rumah kurang lebih 7,2 meter persegi
2. Jarak aman sumber air dari penimbunan limbah cair kira kira 11 Meter
3. Harus tahu pula bagaimana memperlakukan sampah dengan baik
4. Memperlakukan sepadan sungai dengan baik
5. Serta mampu merekayasa ruang peresapan air dengan baik.
Dan bilamana sedang bertumbuh perumahan-perumahan baru, maka hendaklah direncanakan tanpa memotong arah aliran air dan irigasi pertanian.
Terhadap sumberdaya alam pun masyarakat harus memiliki kesadaran tentang pentingnya gumuk bagi masa depan. Begitu pula tentang bagaimana menyiasati kepadatan terhadap ancaman kebakaran, sebab mobil pemadam membutuhkan ruang selebar 2,5 meter dengan jangkauan selang air sepanjang kurang lebih 100 meter.
Kemudian bagaimana pula ke depan ruang terbuka dan arena publik bisa dipertahankan sebagai tempat rekreasi murah, bagaimana dengan pelayanan bagi penyandang disabilitas atau keterbatasan fisik, dimana trotoar haruslah ramah bagi mereka.
Semuanya tentunya butuh waktu dan kemauan belajar. Bahkan jika semua itu dipenuhi pemerintah tanpa penyadaran, pendidikan, serta perubahan perilaku terhadap budaya positif baru, pasti akan percuma.
Saya kira Kalisat punya modal yang kuat untuk itu. Ia bisa disimak dari berapa banyak orang yang berpartisipasi di media ini untuk turut berfikir dan berubah menjadikan Kalisat tempat yang baik dan nyaman.
*Ilustrasi (sketsa) Kalisat oleh Windy
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Response to "PERGESERAN POLA TATA RUANG di KALISAT "