SEJARAH KALISAT
Saya selalu senang bila berjalan-jalan di Kalisat, sebuah kecamatan di kabupaten Jember. Ia memiliki luas wilayah 53,48 kilometer persegi dengan ketinggian rata-rata 281 MDPL. Jarak kecamatan Kalisat dengan rumah saya sekitar 20 menit dengan mengendarai motor. Sedangkan jarak Kalisat dengan pusat kota Jember adalah 16 kilometer.
Kalisat terdiri dari 12 desa; Gumuksari, Sumberjeruk, Glagahwero, desa Kalisat kecamatan Kalisat, Ajung, Plalangan, Sebanen, Sumberketempa, Sumberkalong, Sukoreno, Patempuran, serta Gambiran.
Kalisat terdiri dari 12 desa; Gumuksari, Sumberjeruk, Glagahwero, desa Kalisat kecamatan Kalisat, Ajung, Plalangan, Sebanen, Sumberketempa, Sumberkalong, Sukoreno, Patempuran, serta Gambiran.
Jika dibandingkan dengan sebelumnya, pada tahun 1845 daerah Jember hanya terdiri dari 36 desa, namun pada tahun 1874 berkembang menjadi 46 desa (Regering Almanak, 1874). Lalu pada tahun 1883 berkembang lagi menjadi 117 desa. Saya menebak, tentu Kalisat di tahun 1845 hanya terdiri dari sedikit desa, atau hanya ada satu desa yang luas, dengan sistem pemerintahan yang serba sederhana.
Di pemula tahun 1883, Pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan Besluit Residen Besuki tertanggal 18 Januari 1883 nomer 9/42.sumber dari ANRI Besoeki, 1884. untuk pembentukan desa baru. Besluit itu juga menandai lepasnya Jember dari Bondowoso dan menjadi Afdeling tersendiri, Afdeling Jember.
Pemecahan desa seperti di atas, berdasarkan Besluit Residen Besuki, juga terjadi di Kalisat. Di pemula tahun 1883, Pemerintahan Hindia Belanda mengeluarkan Besluit Residen Besuki tertanggal 18 Januari 1883 nomer 9/42.sumber dari ANRI Besoeki, 1884. untuk pembentukan desa baru. Besluit itu juga menandai lepasnya Jember dari Bondowoso dan menjadi Afdeling tersendiri, Afdeling Jember.
Pemecahan desa-desa di Kalisat terjadi lagi di era 1890an, setelah George Birnie dan rekan-rekannya sesama pengusaha, mereka berhasil menyulap Jember menjadi wilayah metropolitan di bidang perkebunan.
Kerlap-kerlip kemakmuran ekonomi di Jember saat itu mengundang datangnya para migran. Mereka ingin merubah nasibnya di sini. Kalisat semakin ramai oleh pendatang.Secara teritorial, migran asal Madura lebih senang tinggal di wilayah Jember bagian utara, sedangkan migran asal Jawa lebih memilih tinggal di wilayah Jember selatan. Suku yang lain lebih terpusat di wilayah kota, sekitar alun-alun. Jadi, para migran yang ada di wilayah Kalisat rata-rata memang dari Madura. Hingga hari ini, bahasa Ibu dari warga Kalisat didominasi oleh bahasa Madura.
sumber: http://karikecingkul.blogspot.co.id/2013/01/sejarah-kalisat.html
Artikel Terkait:
Wajah Kalisat sebelum Tahun1845
Dimulainya Pemerintahan Desa di Kecamatan Kalisat
0 Response to "SEJARAH KALISAT"