Dimulainya Pemerintahan Desa di Kecamatan Kalisat
Pada tahun 1883, sehubungan dengan berubahnya status kota Jember yang menjadi Afdeling sendiri berpisah dari Bondowoso, maka pemerintah pusat Hindia Belanda mengadakan perombakan struktur pemerintahan. Jember tidak lagi dikepalai oleh seorang Wedana pribumi yang dibantu oleh seorang asisten controleur yang berkebangsaan Belanda, melainkan langsung dikepalai oleh Asisten Residen. C.H Blanken adalah Asisten Residen pertama di Jember yang menjabat sejak tahun hingga 1885.
Asisten Residen bertugas mengepalai Afdeling. Dalam menjalankan roda pemerintahan bekerjasama dengan Bupati yang menjadi kepala pemerintahan pribumi. Untuk itu pemerintah pusat juga mengangkat seorang Bupati. Adapun Bupati Jember yang pertama menurut Regering Almanak tahun 1891 ialah R. Panji Kusumonegoro. Ia menjabat dari tahun 1883 sampai 1891, setelah itu diganti oleh R. Tumenggung Kerto Subroto.
Selain dua pejabat yang memimpin afdeling Jember, pemerintah pusat juga mengangkat pejabat sekretaris, komis, dan seorang controleur, yang diangkat berdasarkan Gouvernements besluit nomer 3 tertanggal 24 Oktober 1883. Pejabat-pejabat itu fungsinya membantu melaksanakan roda pemerintahan sehari-hari.Bersamaan dengan itu pemerintah pusat mendirikan lembaga pengadilan atau landraad, dengan berdasarkan besluit pemerintah nomor 15 tertanggal 9 November 1883 (ANRI Besuki, 1883). Untuk memimpin lembaga pengadilan tersebut, maka diangkat Kepala Jaksa Jember yang semula bertugas di landraad Situbondo dengan jabatan sebagai Adjunct Jaksa. Selain jabatan-jabatan seperti diatas, pemerintah mengangkat seorang patih yang fungsinya sebagai penghubung antara Bupati dengan Wedana yang mengepalai distrik.
Di masa itu di Jember hanya terdapat empat Wedana yakni Wedana Jember, Sukokerto, Puger, dan Tanggul. Jadi wilayah Kalisat dan sekitarnya dirangkum dalam satu kesatuan distrik, di bawah tanggung jawab Wedana Sukokerto. Antara tahun 1869 hingga tahun 1900, Jember mengalami pertumbuhan yang pesat. Pertumbuhan ini melahirkan adanya pemekaran wilayah, ditandai dengan dikeluarkannya besluit pemerintah tertanggal 13 Januari 1913. Mayang yang sebelumnya termasuk wilayah distrik Sukokerto, akhirnya menjadi distrik sendiri yaitu distrik Mayang. Hingga 1 Januari 1929, Jember terbagi atas tujuh distrik, yaitu; Distrik Jember, Kalisat, Mayang, Rambipuji, Tanggul, Puger dan Wuluhan.
Pada tahun 1941, satu tahun sebelum Belanda menyerah kepada Jepang, mereka memberlakukan Staatsblad No. 46/1941 tanggal 1 Maret 1941. Staatsblad itu mengharuskan Wilayah Distrik dipecah menjadi 25 Onderdistrik, yaitu:
1. Distrik Jember, meliputi onderdistrik Jember, Wirolegi, dan Arjasa.
2. Distrik Kalisat, meliputi onderdistrik Kalisat, Ledokombo, Sumberjambe, dan Sukowono.
3. Distrik Rambipuji, meliputi onderdistrik Rambipuji, Panti, Mangli, dan Jenggawah.
4. Distrik Mayang, meliputi onderdistrik Mayang, Silo, Mumbulsari, dan Tempurejo.
5. Distrik Tanggul meliputi onderdistrik Tanggul, Sumberbaru, dan Bangsalsari.
6. Distrik Puger, meliputi onderdistrik Puger, Kencong Gumukmas, dan Umbulsari.
7. Distrik Wuluhan, meliputi onderdistrik Wuluhan, Ambulu, dan Balung.
Sistem pemerintahan desa di Kalisat (Kades pertama) dimulai pada era antara 1913 hingga 1941, mengikuti catatan di atas. Kades pertama biasanya dimakamkan di ketinggian, dengan sebutan Mbah atau Bujuk. Namun tidak semua pesarean bujuk adalah mantan kepala desa. Di desa Kalisat kecamatan Kalisat ada sebuah makam yang terletak di puncak gumuk. Semua warga sekitar mengerti jika itu adalah makam Mbah Genduk, Kades pertama di desa Kalisat kecamatan Kalisat. Kepala desa setelah Mbah Genduk bernama Truno.Kepala desa nomor tiga, setelah Truno, ia bernama Srika. Kades Srika menjabat selama sepuluh tahun, sejak 1942 hingga 1952.
Itulah gambaran umum tentang sistem pemerintahan desa di Kalisat.
sumber: http://karikecingkul.blogspot.co.id/2013/01/sejarah
Artikel Terkait:
Wajah Kalisat sebelum Tahun1845
Sejarah Kalisat
Aku bhengong kate komentar opo, isone cumak support ae soko buri...
BalasHapusSetelah di telusuri gak cuma siji Wong seng ingin mengembangkan Kalisat tercinta, tapi Mereka melakukan dengan caranya sendiri tanpa kekompakan yang luas.
teruslah berkembang sampai kelopak bunganya tersebar dimana-mana...!